Menjembatani Nilai Sosial dan Aturan Rumah Sakit: Urgensi Fasilitas Ramah Anak di RSUP Mataram
Menjembatani Nilai Sosial dan Aturan Rumah Sakit: Urgensi Fasilitas Ramah Anak di RSUP Mataram
Oleh: Dr. Ainuddin.SH.MH.
Tidak dapat dipungkiri bahwa salah satu bentuk pendidikan sosial terbaik bagi anak-anak adalah melalui keteladanan langsung dalam kehidupan nyata. Banyak orang tua di Mataram yang dengan kesadaran nilai tersebut membawa anak-anak mereka ke Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Mataram untuk menjenguk anggota keluarga yang sedang dirawat. Kegiatan ini bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan bagian dari upaya membentuk karakter anak agar peka terhadap penderitaan orang lain dan menumbuhkan empati serta nilai-nilai kemanusiaan sejak dini.
Namun, pada sisi lain, rumah sakit menetapkan aturan yang tidak memperkenankan anak-anak untuk memasuki area rawat inap. Kebijakan ini tentu didasarkan pada alasan yang dapat dipahami, antara lain faktor risiko kesehatan dan ketenangan pasien. Akan tetapi, di balik kebijakan tersebut, terdapat kekosongan ruang partisipatif yang justru menghambat proses pembelajaran nilai sosial bagi anak-anak.
Ironisnya, pembatasan ini tidak diimbangi dengan upaya penyediaan alternatif yang ramah anak. Umumnya, anak-anak yang ikut ke rumah sakit hanya ‘dititipkan’ sementara kepada petugas keamanan atau duduk menunggu di sudut-sudut bangsal tanpa ruang khusus, tanpa edukasi, bahkan tanpa perhatian. Situasi ini semestinya menjadi refleksi bahwa rumah sakit sebagai institusi publik juga berkewajiban menciptakan lingkungan inklusif bagi semua kelompok usia, termasuk anak-anak.
Sudah saatnya RSUP Mataram merespons kebutuhan ini dengan membangun fasilitas umum ramah anak, seperti ruang tunggu interaktif, taman kecil yang edukatif, atau sudut edukasi kesehatan bagi anak-anak. Fasilitas semacam ini tidak hanya mengurangi risiko anak-anak memasuki zona steril, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran nilai sosial dan kesehatan secara tidak langsung.
Dengan langkah ini, rumah sakit tidak hanya menjadi tempat penyembuhan fisik, tetapi juga tempat menanamkan nilai-nilai kemanusiaan yang mendalam pada generasi penerus. Kolaborasi antara disiplin medis dan pendekatan humanis harusnya menjadi model pelayanan kesehatan masa depan: sehat secara jasmani dan tumbuh secara sosial.
Komentar
Posting Komentar