Memorable Never Forget

Gue nggak bakal bisa lupain malam itu. Tanggal 30 Juni 2025, rombongan DePA-RI lagi dinner di restoran mewah ala Timur Tengah di Beijing. Suasananya high-class banget—lampu temaram, aroma rempah-rempah ngelegit di udara. Yang dateng Presiden DHH (law firm ternama sini) plus 4 pendampingnya, sementara tim gue 13 orang penuh. Kita semua duduk manis di meja panjang, obrolan formal ala diplomatis, tapi santai karena makanannya halal semua.  

Nah, pas lagi asyik nyerocos sama rekan China di sebelah, gue malah *ngeyel* nyobain ikan besar disup gitu. Dipikir durinya aman, eh taunya… *kreeek*! Duri tajam nyangkut nggak karuan di tenggorokan gue. Langsung deh, suasana meja makan yang tadinya kalem berubah 180 derajat.  

Ada yang panik: “Minum air! Cepet!”  

Ada yang cekikikan: “Wkwkwk, lu kaya kucing kecele nelen tulang!” (Mungkin keliatannya lucu kali ya, tapi buat gue nggak nahan!)  

Presiden DHH matanya melebar, anak buahnya pada bengong. Rekan China di samping gue buru-buru nyodorin roti, “Coba makan ini! Biar ketelen!”  

Dr. Sugeng—si ilmuwan —langsung kasih saran: “Nasi dikepal, langsung telan! Atau minum cuka apel!”  

Gue coba semua… *Gagal*. Tenggorokan masih kayak ditusuk jarum.  

Tapi lucunya, justru gara-gara duri sialan ini, suasana jadi *cair*. Orang-orang DHH yang tadi kaku, mulai ngasih tips dadakan. Tim gue juga pada ribut ngasih semangat, “Tenang bro, nggak usah malu!” Makan malem yang harusnya formal, tiba-tiba jadi kayak kumpulan temen lama. Ketawa, becandaan, saling tunjukin cara “penyelamatan duri”.  

Acara selesai, durinya masih aja betah nongkrong di leher gue. Pas naik bus, Mbak Lisa—si guardian angel rombongan—nyodorin pisang, “Coba ini! Dikasih doa dulu!” Gue iyain, baca bismillah, langsung telan pisangnya segede kepalan tangan…  

*Gulp*.  

**Dah. Durnya ilang.**  

Gue hampir nangis lega. Nggak jadi mampir IGD di Beijing, nggak jadi viral gegara *Indonesian delegate dilarikan ke RS gegara duri ikan*.  

Yang gue bawa pulang? Bukan cuma oleh-oleh. Tapi kenangan absurd *banget*: how a tiny fish bone turned a stiff diplomatic dinner into a chaotic, warm, *unforgettable* friendship moment.  

Sampe sekarang kalo ada yang nanya, “Pengalaman paling memorable di China apaan?”  

Gue cuma senyum: **“Duri ikan. Titik.”**  

*Note: DePA-RI & DHH, lu pada nggak akan pernah gue lupain. Thanks buat malam kocak itu!*

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kewenangan Presiden dan DPR dalam Pembentukan Undang-Undang di Indonesia: Perspektif Hukum Tata Negara

Analisis Hukum Administrasi Negara terhadap Kasus Mantan Sekda NTB: Batasan Kewenangan Pemerintah dalam Kontrak antara Hukum Publik dan Hukum Privat

Konflik Legalitas dan Etika Ekologis: Analisis Hukum atas Kepemilikan Tambang Nikel di Raja Ampat oleh BUMN di Era Pemerintahan Jokowi