Prekariat


Prekariat: Hidup di Atas Garis Tipis Ketidakpastian

Oleh: Ainuddin


Pagi yang Penuh Rasa Waswas

Bayangkan Anda bangun pagi dengan satu pertanyaan yang menghantui: “Apakah bulan depan saya masih punya pekerjaan?” Pertanyaan itu bukan hanya milik sebagian orang, tetapi kini menjadi kenyataan jutaan pekerja di Indonesia. Mereka inilah yang masuk ke dalam sebuah kelas sosial baru bernama prekariat — orang-orang yang hidup di atas garis tipis ketidakpastian.

Siapa Mereka, Kaum Prekariat?

Prekariat adalah gabungan dari kata "prekarius" (tidak pasti) dan "proletariat" (kelas pekerja). Mereka adalah guru honorer yang gajinya tidak cukup, pengemudi ojek online yang setiap hari berpacu dengan algoritma aplikasi, kurir paket yang dibayar per kiriman, desainer grafis lepas yang mencari proyek demi proyek, hingga lulusan universitas yang berpindah-pindah kerja kontrak.

Kesamaan mereka sederhana:

  • Tidak ada kepastian pekerjaan.
  • Pendapatan tidak menentu.
  • Minim atau bahkan tanpa perlindungan sosial.

Data Badan Pusat Statistik (2024) menunjukkan, lebih dari setengah tenaga kerja Indonesia berada di sektor informal — sebuah ladang subur bagi tumbuhnya kelas prekariat.

Mengapa Prekariat Muncul?

  1. Ekonomi Neoliberal – Kebijakan pasar bebas mendorong fleksibilitas tenaga kerja, tapi sering kali “fleksibilitas” ini berarti menghapus rasa aman.
  2. Teknologi dan Otomatisasi – Mesin dan kecerdasan buatan mengambil alih banyak pekerjaan, sementara pekerjaan baru cenderung kontrak atau berbasis proyek.
  3. Globalisasi – Persaingan internasional memaksa perusahaan menekan biaya tenaga kerja dengan sistem outsourcing dan kontrak pendek.
  4. Pendidikan yang Tak Menjamin – Banyak sarjana yang akhirnya bekerja di bidang yang tak sesuai kompetensi, dengan gaji rendah dan tanpa jaminan masa depan.

Ketika Ketidakpastian Menjadi Gaya Hidup Paksa

Hidup dalam ketidakpastian bukan hanya persoalan ekonomi. Dampaknya merembet ke psikologis: stres, kecemasan, dan rasa terasing dari masyarakat. Guy Standing, ekonom yang mempopulerkan istilah ini, menyebut prekariat sebagai “kelas yang berbahaya”. Bukan karena mereka anarkis, melainkan karena mereka adalah kelompok yang merasa dikhianati oleh sistem.

Inilah yang membuat prekariat rentan terhadap dua pilihan ekstrem:

  • Apatisme politik — merasa percuma ikut memilih, karena hasilnya tak pernah berpihak pada mereka.
  • Dukungan pada populisme — memercayai janji-janji instan yang kadang justru menjerumuskan.

Apa yang Harus Kita Lakukan?

Prekariat bukan sekadar statistik ketenagakerjaan; mereka adalah wajah masa depan kita jika sistem tidak berubah. Karena itu, ada tiga langkah mendesak yang perlu diambil:

  1. Perlindungan Sosial Universal – Semua pekerja, formal maupun informal, harus memiliki akses terhadap jaminan kesehatan, hari tua, dan tunjangan pengangguran.
  2. Pekerjaan Layak – Pemerintah dan sektor swasta perlu mendorong kontrak kerja yang lebih adil dan berkelanjutan.
  3. Pelatihan dan Adaptasi Keterampilan – Tenaga kerja harus dibekali keterampilan baru yang relevan dengan era digital dan otomatisasi.

Penutup: Masa Depan yang Layak untuk Semua

Kaum prekariat mengingatkan kita bahwa kemajuan ekonomi tidak otomatis berarti kesejahteraan merata. Bekerja keras saja tidak cukup bila sistem tidak memberi ruang aman untuk berkembang.

Jika kita ingin Indonesia yang stabil dan sejahtera, kita tidak boleh membiarkan jutaan orang terus hidup di atas garis tipis ketidakpastian. Sebab ketika terlalu banyak orang hidup dalam ketidakpastian, ketidakpastian itu akan menjadi masalah bersama — masalah bangsa.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kewenangan Presiden dan DPR dalam Pembentukan Undang-Undang di Indonesia: Perspektif Hukum Tata Negara

Analisis Hukum Administrasi Negara terhadap Kasus Mantan Sekda NTB: Batasan Kewenangan Pemerintah dalam Kontrak antara Hukum Publik dan Hukum Privat

Paradoks Profesionalisme Jaksa Penuntut Umum: Kritik terhadap Tekanan Psikologis terhadap Terdakwa dalam Sistem Peradilan Pidana Indonesia